Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web


Prosa dan Puisi
Welcome

About Spotlite

Album I

Album II

Album III

Album IV

Album V

Spotlite Menu

Community

Cerita Kita

Prosa dan Puisi

Puisi Hati

Contact Us

Guest Book

Behind The Screen

Links 

Sponsor

Shopping 

Wahai angin ..sampaikan salamku padanya !
Tanyakan padanya apa ia masih mau berjumpa denganku!
Apakah dia masih memikirkan diriku !
Bukankah telah kukorbankan diriku untuk nya
Hingga diri ini harus menanggung kepedihan hati di atas bukit berpasir.

Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah...
Maukah engkau menyampaikan salam rinduku pada orang yang kucinta.
Belailah rambutnya yang hitam dan berkilau..
belailah untukku..
untuk mengungkapkan rasa ini yang ada dalam hatiku yang terbagi.

Wahai angin ... maukah kau bawakan keharuman tubuhnya kepadaku...
sebagai pelepas rasa rindu...
agar selalu kurasakan aromanya seperti saat terakhir aku merasakannya.

Aku merangkak melintasi bukit berpasir
Tubuhku berbalut debu dan darahkupun mengalir
Dan airmataku pun telah kering karenanya.

Duhai semilir angin... bisikan padanya... bahwa cinta ini tak mau juga pergi.

Aku .... Aku adalah sang waktu yang akan mengisahkan perkara ini, Seperti apa yang telah aku saksikan, Tentang hal-hal yang bijak, tentang pemahaman hidup dan cinta, tentang kekuatan sebuah hati yang terbentuk dari terpaan angin serta air hujan dan tentang pencerahan dari sinar matahari pagi.

Apa yang aku saksikan adalah perkara yang terjadi disini, dan aku ingin mengisahkan cerita tentang kekuatan hati akan cinta yang dapat memecahkan batu dan menumbangkan pohon-pohon serta juga dapat membuat lembah-lembah yang subur menjadi kering.

Aku ingin ... siapapun yang membaca cerita ini dapat mengambil inti dari permasalahannya, belajar dari kejadian masa lalu, karena ...mungkin saja perkara ini akan singgah dalam kehidupan kita...sehingga .... cerita yang selalu berulang dari kejadian masa lalu....masa kini... dan masa yang akan datang...dimana kekuatannya dapat menyebabkan 3 kenyataan... kebahagiaan...penderitaan...dan kematian !

Aku tidak menceritakan tentang kesedihannya kecuali kepada orang-orang yang mau bersimpati.
Tidak berguna menceritakan lebah kepada seseorang yang selama hidupnya tak pernah merasakan sengatan.
Sepanjang ia belum pernah merasakan penderitaan seperti yang dialami dalam cerita ini.
maka kisah ini hanya akan menjadi kisah yang tidak berguna.

Kunamakan dia "SHIVA"

Dimana jiwanya terbentuk dari perjalanan hidupnya, dia yang selalu menempatkan perjalanan hidupnya di luar jangkauan tangannya, dia yang selalu melompati keterbatasan dirinya, dia yang hidup di bawah tekanan dan selalu dapat keluar dari setiap kemelut dan pertentangan, dimana setiap hal adalah mungkin baginya.

Sebuah hati yang lembut serta langkah yang bijak...dimana kata katanya dapat menenangkan setiap aura yang ada di sekelilingnya...
Dia begitu spontan menyikapi hidup ini, dan dalam setiap persoalan yang terjadi dalam hidupnya, dia hanya yakin akan tiga cara.
Yang pertama dengan cara yang benar
Yang kedua dengan cara yang salah
Dan yang ketiga dengan caranya sendiri.

Aku Saang waktu mengakui kekerasan hatinya dan juga kelembutannya merupakan hasil dari apa yang ia lalui dalam kehidupan ini. Kepercayaan diri yang kuat telah membentuk dirinya menjadi kokoh seperti gunung, serta kasih dan cintanya mengalir bagaikan air di sungai yang jernih.
Semua ada dalam dirinya ...diri seorang "SHIVA".

Shiva memiliki semua hal yang membahagiakan hidupnya, sebuah kombinasi yang kadang membuat orang disekelilingnya bingung dan tak pernah tahu apa yang sedang ia rencanakan... dan dia begitu sepontan meyikapi hidup ini.

Dia memiliki seorang istri seperti Dewi Kunti, dimana kesabaran dan kebijaksanaan menjadi takdirnya, dan dia selalu menjadi inspirasi dalam kehidupan shiva, selalu memberi rasa yang sama sejak pertama Shiva bertemu. seorang istri yang dicintainya.

Dan dia memiliki seorang Putri seperti Drupadi, dimana pesonanya dapat memikat setiap orang yang memandangnya, Seorang putri yang akan mewarisi semua yang telah Shiva bangun dalam kerajaannya.

Hidup begitu indah dengan berbagai warna-warna, yang selalu digoreskan diatas sebuah peta putih dari sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Tapi... apa yang terjadi...sulit bagiku untuk memulai kisah ini, namun ini adalah kenyataannya, tentang hal yang tak dapat dihindari, meskipun oleh orang sekuat Shiva sekalipun.

Aku...sang waktu...dapat merasakan ada pesona yang menjerat hatinya, pesona yang tak semestinya harus ada, pesona yang tercipta dari seorang wanita dari Wangsa Kuru.
Wanita yang telah memberikan secawan anggur diperjalanan hidup Shiva, dimana ketika lelah itu ada, serta dahaga yang menyeratkan jiwa, cawan anggur itu selalu tersedia baginya....

Tapi... di Saat waktunya telah tiba, dimana cawan anggur dalam genggamannya tak memancar lagi, Shiva harus jatuh dalam kelelahan... untuk mengharap dan mencari...sesuatu yang telah pergi.

Shiva mulai gelisah, tak sekejappun ia sanggup memejamkan mata. Jika malam telah tiba, dia pun pergi meninggalkan rumah, berjalan tak tentu arah, menerobos semak belukar, menuju padang belantara dengan langkah yang gontai, dia mencari sesuatu yang tak akan pernah ia temui lagi, kenangan pada wanita dari wangsa kuru telah membuat Shiva tak perduli akan segala bahaya yang akan menghadang. Dadanya dipenuhi akan kesedihan dan Jiwanya yang terluka berbicara, mengisahkannya pada alam dan cakrawala, pada malam-malam yang hening, pada bulan yang berjaga, dan pada bintang-gemintang, pada semuanya ia kabarkan betapa Cinta telah membelenggunya, bagaimana kerinduan telah memadamkan harapan dan mimpinya.

Disini... aku sang waktu...telah menyaksikan sejarah dari seorang anak manusia, yang mempunyai segala kelebihan dalam hidupnya dan kemudian jiwanya harus jatuh dalam Pencobaan yang kelak akan memberikan banyak hal, yang tak dapat terbeli oleh harta yang ia miliki dan tak tergantikan oleh jaman ini, dan tak dapat dirasakan oleh siapapun meski oleh diriku sendiri.....

Apa yang telah terjadi pada Shiva.......

Hatinya terbagi-bagi tak utuh lagi, dimana serpihan hati telah berserakan dibawah kakinya, ada sebagian yang terjerat kuat, sehingga begitu kuatnya, shiva harus menahan kepedihan dan duka ini....seorang diri...!

Berlalulah masa dimana orang-orang meminta pertolongan darinya...dan sekarang...adakah seorang penolong yang akan mengabarkan rahasia jiwanya pada wanita dari wangsa kuru !
Lihat .... lihatlah kenyataan ini...dimana cinta telah membuat Shiva yang kuat menjadi lemah tak berdaya...seperti anak yang hilang dari ibunya...dan tak memiliki harta...Cinta laksana air yang menetes di atas bebatuan...dan waktuku terus berjalan dan akhirnya bebatuan akan hancur berserakan seperti hatinya...Pria manakah yang dapat selamat dari api cinta ?

Ada kecewa, amarah, resah, lelah hati, kebimbangan mencari arti, kasih dan cinta, ada juga rindu bertalian cemburu, ada harapan yang hilang dan duri dari rasa bersalah atas semua ini, semua bercampur dalam keagungan dan rasa yang telah tercipta di dalam hatinya.

Shiva coba untuk berdiri diatas kaki yang telah menjadi lemah, mencoba untuk keluar dari setiap jengkal perkara ini...seorang diri...dan dengan caranya sendiri...

Shiva mulai beradu dengan maut...melukai hati orang-orang disekelilingnya, membingungkan pikirannya sendiri, dan kemudian ketika matahari memerah memancarkan warnanya, seperti ikut memendam duka, dan Shiva pun berlari menuju bukit dengan sebuah pengharapan, dinginnya udara di atas sana akan memupuskan setiap jengkal perkara yang ada dalam dirinya.
Dan apa yang terjadi !!!

Aku hanya melihat airmata,...Airmata karena cinta dan putus asa, airmata yang membawa rasa rindu yang terungkapkan dan air mata dari hati yang terluka karenanya.
Dinginnya udara disana telah membekukan hati seorang Shiva.

Hari hari berjalan sangat lambat baginya...setiap saat gelisah membakar jiwanya...dan kebekuan hati yang memilukan rasa.
Di matanya ada bayangan dan pesona dari masa lalu, yang tercipta dari seorang wanita dari wangsa kuru.

Perkara ini telah membuat hidup Shiva separuh tak berarti, dimana air terasa hambar dan makanan telah membuatnya sakit....Memcoba menghapus rasa ini dan memberi rasa lain, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan kemudian shiva pun berharap resah itu tak menyentuhnya lagi.

Tubuh dan jiwanya sekarat, lalu kemanakah ia akan membawa langkahnya saat ini....ketika terasa hidup tampanya akan lebih tak tertahankan, dan dimana keramaian membuatnya jengah serta ia makan dan minum dari piring dan gelas yang kosong.

Aku tahu....Shiva masih menghormati hidup, setidaknya itu alasannya ia masih ada di antara kita. Shiva hanya takut pada dirinya sendiri, takut tak dapat mengatasi perkara ini. Haruskah ia mematikan cahayanya.....
Akan tetapi ketika cahaya itu mati....maka ia tak akan dapat membuat cahaya yang sama lagi, dan itu akan membuatnya menjadi layu !
Penderitaan itu sangat mengganggunya, Dan selalu ia rasakan dalam setiap helai napasnya, mengalir di dalam darahnya...tak dapat kita rasakan ...dan tak dapat ku gambarkan...
Dia terjebak dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan namun dia tak kuasa untuk membencinya.

Kurasakan....masih ada kehidupan dalam genggaman tangannya....tidak begitu kuat....sedang saja....lemah barang kali....!

Kemudian haripun gelap lagi...dimana bintang bintang tampak berhamburan terpandang dari tepi pantai...dimana Shiva berdiri menatap langit berbatas laut...berharap menemukan jiwanya yang hilang....dan...suara angin kencang dan deburan ombak berirama dengan suasana hatinya yang dipenuhi oleh gejolak rasa.
Shiva berlari kencang menyusuri tepi pantai ....melawan angin dan berteriak sekuatnya untuk mengalahkan suara ombak ...aku sang waktu...melihat dengan jelas...ada amarah keluar dari dalam dirinya...amarah yang selama ini ia jaga untuk tak keluar...namun kini batas kemampuannya untuk menahannya telah lewat...amarah itu keluar tak terkendali.....menghantam pasir dengan kepalan tangannya yang lemah bertubi-tubi...peluh dan darah bercampur mengalir bagaikan tak dirasakannya...menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi...meneriakan protes hati...Shiva tak pernah berharap cinta ini ada dalam dirinya....Dan ia pun terjaga dalam kebingungan hatinya.
Disini...tak kulihat airmata lagi...dan tak kulihat terbukanya mata hati...tak ada yang bijak yang kurasakan dalam perkara ini...dan tak ada kata yang bisa ku katakan...dan hanya ada diam serta murka hati.

Aku sang waktu merasakan arti dari sebuah jiwa yang terambil.
Aku sang waktu mencoba untuk mengerti derita ini baginya.
Aku sang waktu yang tak mampu memutar kembali dari setiap perkara yang telah terjadi.

Shiva Butuh di mengerti....Kucoba untuk melihat perkara ini dari kacamata Shiva, tentang kecantikan dan pesona dari wanita wangsa kuru, sehingga rahasia daya tariknya akan bisa kuketahui.

Jika cerita tentang pesona seorang wanita dari wangsa kuru terdengar di telinga semua orang....melalui bisikan daun-daun tentang pesona yang akan dikeluhkan kepada alam.
Wahai para sahabat, akan ku katakan kepadamu tentang apa yang tidak kamu lihat...
sehingga kamu akan tahu, apa yang telah memikat hati seorang Shiva.

Dia butuh dimengerti dan dipahami...membiarkan rasa itu tetap ada dalam hatinya....dan biarkan rasa itu pergi bila saatnya tiba.
Sekalipun dia tak pernah mau cinta itu ada di dalam hatinya...akan tetapi ...cinta itu telah hadir tampa pernah ia sadari sebelumnya.

Dan janganlah kamu menentang cinta.
Karena itu adalah anugrah bagi jiwamu.

Cobalah bertahan atas derita ini...
dari malam ke malam
dari siang ke siang
Tapi semua gairahmu telah lenyap bersama rambut hitamnya.
Shiva....adalah hati yang tak berjiwa, terpisah...tak dapat diubah.....kosong.

Akhirnya kebijakan hati telah datang dengan segala kepahamannya

Matahari menghiasi pagi dengan sinar keemasannya, menggantikan malam-malam yang penuh dengan bintang bintang keperakan.
Pagi yang segar mengilhami kekuatan pada diri Shiva, untuk mencoba menempatkan masa lalu di belakang jalannya...dan aku sang waktu telah melihat senyum itu datang lagi..senyum dengan seratus syair indah yang keluar dari sebuah pencerahan hati yang terluka...

Kurasakan ia telah berdamai dengan hati dan jiwanya
Dan Kurasakan.....
Tak ada lagi gejolak jiwa
Tak ada lagi pertentangan hati
Dan tak ada lagi resah diri

semua telah diterima untuk menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Apakah ini adalah akhir sebuah cerita hidupnya !
Bukan....Kurasakan ini bukan sebuah akhir...
Namun....INI AWAL DARI KEBESARAN JIWA DAN HATI.


 


De .... 03 Sep 2002